Sabtu, 01 Juni 2013

Asa dan Kereta Apinya

Asaku Mulia (2.5 tahun) suka kereta api.  Sejak mengenali bentuk, Asa sangat tertarik dengan apapun yang ada hubungannya dengan kereta api.  Memang berbeda sekali dengan kakaknya, Cinta yang sangat menyukai warna pink dan boneka Barbie.  Ya, ini adalah hal yang wajar.  Sebagian besar anak telah menyukai mainan sesuai gendernya sejak kecil.  Natural kok.  

Lain lagi ceritanya dengan kemampuan bahasa anak-anak saya.  Konon, anak perempuan lebih ceriwis daripada anak laki-laki.  Kakak Cinta memang pandai berbahasa, ceriwis sejak kecil. Tapi ternyata, Adik Asa lebih ceriwis lagi. Nah lo, wajar nggak? Ya tidak masalah kan, malah bersyukur. Mungkin adik Asa lebih banyak belajar bahasa dari kakaknya, sehingga kosa katanya cepat berkembang.  Melihat kecerdasan bahasa Asa dan minatnya pada kereta api, maka saya lebih mudah menstimulasi kecerdasannya dengan cara yang menyenangkan.  

Hmmm, masih ada rodanya nggak ya?
"Kereta Apiiiiiii" begitu teriak Asa setiap kali melihat kereta api.  Baik di jalan, di toko mainan, maupun di televisi, matanya selalu berbinar melihat kereta api.  Tidak hanya visual, telinganya juga peka. Mendengar bunyi "Tut-tuuut" saja Asa sudah langsung diam memperhatikan. "Suara apa tuh?" tanyanya pada saya.  "Suara apa ya?". Saya pura-pura tidak tahu. "Suara kereta apiiiii" jawab Asa antusias.


"Jalan nggak kereta apinya, Mama?" 
"Ada rodanya nggak Mama?" 
"Ada relnya nggak?
"Mana anaknya? " 
(Asa menyamakan lokomotif sebagai mama kereta api, dan gerbong di belakangnya sebagai anak kereta api) 
"Ada asapnya nggak?
"Bisa terbang nggak kereta apinya ?"
"Kereta api bisa bicara, memangnya?"


Begitulah, dari satu obyek kereta api saja bisa bermunculan banyak pertanyaan dari Asa.
Kereta api juga menjadi sarana Asa belajar warna, bentuk dan ukuran. Saya sering bertanya pada Asa, misalnya kereta Thomas warnanya apa? Percy besar atau kecil? Wilson warnanya apa? Coco warnanya apa? Dan Asa sangat hapal warna-warna karakter kereta api tersebut. 
(Info : Thomas dan Percy adalah karakter dalam film Thomas and Friends, sedangkan Wilson dan Coco adalah karakter dalam film Chuggington.  Asa suka kedua film tentang kereta api tersebut )
Saya sengaja membelikan mainan kereta api kecil-kecil buat Asa. Biasanya, dia sendiri yang memilih dan pilihannya kuat loh, hehehe. Jadi saat ini ada banyak kereta api mainan di rumah. Karena keingintahuan Asa sangat besar, dia membongkar pasang mainan itu.  Akibatnya, mainan-mainan itu tidak tahan lama.  Baru sehari rodanya sudah bertebaran kemana-mana.  Atau bagian mesinnya sudah dicopot, baterainya dikeluarin oleh Asa.  Dan sering kali Asa melakukan mix and match antara lokomotif dan gerbong, juga bongkar pasang relnya.  Bosan memakai rel, lalu Asa menyusunnya berderet di lantai seperti gambar di bawah ini.  Sambil bermain, tak henti-hentinya mulutnya bernarasi.  Ceriwis banget !

Taraaa, aku bisa membuat barisan kereta api. Rapi kan?

Koleksi kereta api Asa, sebagian sudah tak beroda :)
Sesekali saya puaskan rasa penasaran Asa dengan naik kereta api sungguhan.  Kami sekeluarga jalan-jalan ke stasiun kereta api Bogor.  Bisa dipastikan, disana Asa sangat terpesona melihat kereta api ukuran besar, bisa jalan dengan suara yang menggema. Sepanjang jalan pulang Asa tak henti-hentinya berceloteh tentang kereta api yang baru dilihatnya. "Kereta apinya besar sekali. Adik Asa berani naik kereta api" katanya bangga.  Pengalaman seperti ini sangat penting untuk membangkitkan kenangan dan imajinasi anak.  Bahkan sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan mereka akan terkesan dan mengingatnya.

Jalan-jalan ke stasiun Bogor demi bisa melihat kereta api sungguhan.
Asa sedang pada masa golden age, yaitu usia dimana otaknya tumbuh dan berkembang sangat pesat.  Tentunya saya tidak ingin melewatkan masa ini.  Pada masa ini saya berusaha mendukung dan mengoptimalkan kecerdasan Asa.  Dua hal utama yang paling menjadi perhatian saya adalah nutrisi dan stimulasi.  Nutrisi dan stimulasi yang tepat mendukung perkembangan otak, diantaranya memori, daya konsentrasi, dan memecahkan masalah.

Stimulasi kami berikan dengan memancing keingintahuan anak, mengajaknya berbicara dan menunjukkan hal-hal baru di sekitarnya. Stimulasi bisa dilakukan kapan saja dimana saja dengan cara yang menyenangkan. Misalnya dengan bermain cermin, menulis, atau bermain di lapangan. Yang penting, anak gembira dan merasa disayangi. Keterlibatan dan pendampingan orang tua sangat diperlukan. Anak tidak hanya butuh mainan, namun juga perhatian. Berbicara dengan menatap mata anak dapat meningkatkan fokus dan perhatian anak.
Lihat, siapa itu di dalam cermin?

Lukisanku bagus loh..

Mau lihat bola atau lihat mama sih?

Untuk tumbuh dan berkembang, tubuh (termasuk otak) butuh nutrisi.  Nutrisi ini ibaratkan bahan bakar pada mobil, atau air pada tanaman.  Bukan berarti saya mengukur dan menimbang porsi makanan Asa.  Nggak segitunya, kok.  Mudah saja, cukup ikuti pakem gizi seimbang. Makan ada nasi, lauk, sayur dan jus.  Nasi bisa diganti roti atau mie.  Asa paling suka mie, mungkin karena bentuknya unik. Tapi bukan mie instan dengan MSG loh.  Saya menggunakan bumbu buatan sendiri, bawang merah, bawang putih dan sedikit merica plus wortel dan sawi, taraaa, jadi deh mie yang lezat.

Asa suka makan. Sayangnya, Asa masih suka pilih-pilih.  Dia suka sayur yang mudah dicerna misalnya bayam yang diiris halus, atau wortel yang direbus empuk.  Untuk buah, Asa lebih memilih yang empuk dan tidak asem.  Maklum, masih tahap belajar. Mudah-mudahan nanti lama-lama mau semua makanan.  Pinter-pinternya kita saja menyiasati kebutuhan nutrisinya. Untungnya, selera makannya sangat bagus. Jadi tidak sulit bagi saya mencari alternatif nutrisi.  Asa juga suka susu.  Saya harus cermat memilih susu, karena di pasaran banyak sekali produk susu.  Saya fokus mencari susu yang mengandung nutrisi untuk optimalisasi kecerdasan otak.

Saya merasakan bagaimana menjadi mama dari anak perempuan yang manis, dan anak laki-laki yang seru.  Yup, seru banget deh sehari-hari melihat tumbuh kembang Asa.  Pertanyaan yang tiada habisnya, dan bergerak terus tiada kenal lelah.  Maaf ya sayang, kadang-kadang mama kelelahan mengikuti ritmemu.  Semoga apa yang Mama berikan untukmu adalah yang terbaik ya Asa.  
Love you Asa. Yuk bermain lagi :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar