Kamis, 12 Desember 2013

Menumbuhkan Rasa Sayang Kakak-Adik


Seringkali saat membawa Cinta dan Asa bertemu saudara atau teman saya, mereka mendapat komentar begini:

"Aiiih, si kakak baik banget ya mau momong adik"
"Kok rukun banget sih anak-anakmu Rin, karena jarak umurnya jauh ya ?"
"Pasti karena beda jenis kelamin, kayaknya Cinta dan Asa nggak pernah rebutan"


Dan komentar-komentar lainnya yang bernada positif. Sementara kakak-adik yang lain terlihat rebutan, berantem atau saling cuek, Cinta - Asa relatif adem-ayem, main bareng, memanggil dengan sebutan kakak-adik (bukan nama langsung) dan saling membantu.

Yang paling bahagia tentunya saya dan mas Ari. Pantas, dulu ayahku selalu bilang ke 7 anak-anaknya, "Apapun yang terjadi, yang penting kalian rukun".

Kerukunan dalam bersaudara sangat penting. Kerukunan ini harus dijaga hingga kelak mereka dewasa. Rukun bukan sifat yang datang tiba-tiba. Saya menanamkan rasa sayang kakak-adik ini bahkan sejak kehamilan saya yang kedua.

Menumbuhkan sayang butuh proses.

Cinta adalah orang pertama yang tahu bahwa saya hamil dan dia akan mempunyai adik. Semula saya duga reaksi Cinta akan kuatir atau kecewa. Ternyata saya salah, Cinta sangat senang dengan berita ini. Kami berdua meluap-luap, menahan tawa bahagia. 

Cinta bahagia karena saya menularkan kebahagiaan itu. Sejak beberapa bulan sebelumnya saya sudah menyampaikan cerita-cerita tentang asyiknya punya adik.

Begitu adiknya lahir, sudah tertanam dalam hati Cinta bahwa si adik adalah temannya kelak, harus saling sayang.

Dimulai dari si Kakak.

Kata orang, "Kalau si kakak baik, adiknya ikutan baik. Sebaliknya, kalau kakak nakal, adiknya lebih nakal".  Masuk akal juga, karena si adik cenderung meniru si kakak. Jadi anak pertama memang panutan. Pola asuh kita pada anak pertama sangat menentukan mudah-tidaknya menumbuhkan rasa persaudaraan.

Sebagai kakak, Cinta mampu menjadi contoh yang baik. Apakah karena Cinta perempuan, jadi cenderung kalem dan penurut? Hm, enggak juga. Banyak anak laki-laki yang juga baik dan mampu menjadi contoh buat adiknya. Perlu diingat, karakter anak banyak dipengaruhi oleh sikap orangtua. Tidak heran kalau Cinta kalem, karena saya dan mas Ari juga banyak bersikap tenang dalam mendidik anak.



Perlakuan adil.

Menumbuhkan rasa sayang kakak-adik saya lakukan diantaranya dengan berusaha berlaku adil. Saya memang sering meminta si kakak mengalah meminjamkan mainan apabila si Adik memintanya dengan baik. Tetapi jika Asa main rebut atau kasar, saya akan mengingatkan Asa dan membiarkan mainan tetap ditangan Cinta.  

Dengan berlaku adil saya ingin Cinta tahu saya menyayanginya dan tidak membenci adiknya. Pertengkaran kakak-adik wajar terjadi namun tidak akan lama jika kita berlaku adil saat menjadi penengah. Kadang Asa membantah lebih lama, pada saat itu saya wajib untuk konsisten tegas tidak menurutinya. 

Tidak membandingkan negatif.
Nah, ini yang kadang kita lupa... membandingkan anak-anak baik fisik maupun kemampuan. Membandingkan dapat membuat anak minder dan iri. Jikapun mau membandingkan, saya sebutkan kedua hal positif dari Asa dan Cinta. Misalnya, Cinta waktu kecil lebih cepat bicara, sedangkan Asa lebih cepat jalan. Cinta adalah anak yang mandiri dan Asa anak yang tertib.

Sering bermain berdua.
Saya selalu meminta Cinta menemani Asa saat saya memasak di dapur. Manfaatnya, anak-anak intens berinteraksi. Saat berdua mereka saling bantu. Cinta menggambar untuk Asa, eh..ternyata Asa juga mau diminta mengambilkan crayon untuk kakaknya. 

Cinta saat ini tak hanya mandiri mengurus dirinya sendiri. Dia juga terbiasa membantu mengurus adik dalam hal-hal yang mudah dilakukan, misalnya memakaikan celana, mencuci tangan, menyisir rambut atau memakaikan sepatu adik. Adeeem, hati ini melihat adegan rukun mereka. :)


Sering mengucapkan sayang.
Rasa sayang itu harus disampaikan. Semakin sering semakin baik. Saya biasa mengatakan begini saat kami berkumpul "Mama sayang kakak dan adik. Kakak sayang adik. Adik sayang kakak." Sambil saya tunjuk satu persatu nama yang disebut.

Tujuannya adalah agar anak-anak terbiasa mengatakan sayang dan lebih ekspresif menyampaikan perasaan mereka. 

Demikian cara-cara sederhana yang saya lakukan agar anak-anak rukun. Hasilnya bisa dilihat pada foto-foto berikut.





2 komentar: